Call Us:+1-888-888-888

Karpet Merah Otonomi Sekolah

Home  /  Pendidikan  /  Karpet Merah Otonomi Sekolah

19.Dec, 2019 Comments Off on Karpet Merah Otonomi Sekolah Pendidikan

Karpet Merah Otonomi Sekolah

Karpet Merah Otonomi Sekolah

Karpet Merah Otonomi Sekolah

Karpet Merah Otonomi Sekolah

Setelah dipublis, naskah pidato Mendikbud untuk peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 25

November mendadak viral. Selain keluar dari jalur atau kebiasaan pidato resmi seorang pejabat negara, apalagi setingkat menteri, teks pidato yang akan dibacakannya pada puncak HGN itu juga terbilang singkat namun sangat menyentuh persoalan mendasar guru itu sendiri.

Penunjukan Nadiem Makarim sebagai nahkoda Kemendikbud memang telah keluar dari kebiasaan. Penuh kejutan. Bahkan setelah dilantik pun, menteri yang mewakili generasi milenial itu masih memberi kejutan dengan program 100 harinya. Bukan berisi berbagai daftar terobosan atau rencana kerja. Tetapi “hanya” diisi dengan belajar dan mendengar.

Begitu juga dengan pidatonya itu. Tanpa perlu tafsiran mendalam, membacanya sekilas saja kita

sudah tersentak dengan realitas yang disampaikan. Bukan karena realitas itu adalah hal yang baru. Bisa jadi kita tahu dan sadar bahkan jauh sebelum sang menteri lahir. Namun yang membuat kita semua tersentak, terutama para guru adalah karena yang menyampaikan realitas itu seorang menteri plus melalui pidato resminya.

Dari pidato itu juga tentu akan lahir ruang kegembiraan. Perlahan tapi pasti kita mulai mengetahui cara pandang sang menteri terhadap akar persoalan pendidikan bangsa. Satu kata: guru. Mas Menteri tahu persis jurang antara kemuliaan dan kesulitan yang dirasakan seorang guru. Singkat kata, intinya kita secara aklamasi seperti ingin mengatakan ini adalah harapan baru di tengah “terjajahnya” sistem pendidikan di Indonesia selama ini.

Menanti Kesiapan Guru?

Para guru tentunya tidak ingin harapan ini berakhir persis bersamaan dengan usainya gegap

gempita peringatan HGN. Juga tidak ingin hanya sekadar terekam jejaknya melalui teks pidato semata. Jutaan guru di Indonesia bahkan ingin sesegera mungkin untuk bisa merealisasikan “langkah pertama” seperti yang diharapkan Mendikbud.

Namun pertanyaannya apakah guru telah siap untuk melakukan perubahan tanpa menunggu perintah? Selain adanya faktor “kenyamanan” yang sudah menahun, kita juga harus jujur bahwa guru memiliki banyak pemberi perintah alias atasan. Guru secara tidak langsung juga masih menempatkan dirinya sebagai “bawahan”. Indikatornya dapat dilihat, ketika dipanggil, misalnya oleh kepala dinasnya, pasti langsung bergegas meninggalkan kelas. Nasib anak biasanya disubstitusi dengan tugas atau guru pengganti. Dipandang sesederhana itu.

 

Baca Juga :


Comments are closed.