Call Us:+1-888-888-888

Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000/Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan

Home  /  Pendidikan  /  Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000/Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan

12.Dec, 2019 Comments Off on Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000/Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan Pendidikan

Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000/Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan

Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000/Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan

Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000 Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan

Gubri Kesal SMAN 2 Pekanbaru Pungut Uang PKL Rp1.950.000 Siswa, Kadisdik Riau Terkesan Membolehkan

Gubernur Riau (Gubri) H Syamsuar mengaku kesal dengan pungutan yang dilakukan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Pekanbaru terhadap para siswa, masing-masing Rp1.950.000. Pihak sekolah menyebutnya biaya praktik kerja lapangan (PKL).

Namun Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Riau Rudyanto sepertinya memiliki sikap berbeda dengan Gubri. Rudyanto terkesan membolehkan SMAN 2 memungut uang dari orangtua siswa untuk membiayai program PKL.

Ketika diminta tanggapannya Jumat (25/10/2019), Rudyanto mengatakan, PKL siswa SMAN 2

Pekanbaru pasti sudah dirundingkan bersama komite sekolah dan orangtua siswa.

”Mereka (sekolah) pasti sudah merapatkan dengan orangtua siswa sebelum mengeluarkan surat edaran tersebut. Biasanya tidak ada paksaan untuk ikut atau tidak,” kata Rudyanto di kantor Disdik Riau.

Rudyanto menyatakan, PKL bukan program wajib di SMA. Berbeda dengan Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK), yang memang mengharuskan siswanya mengikuti PKL. ”Kalau untuk sekolah kejuruan memang diwajibkan, karena itu bidangnya,” ujar Rudy.

Menurutnya, mungkin hanya satu atau dua orangtua siswa yang menolak PKL, sedangkan yang lainnya setuju.

Rudy menyarankan, jika memang diwajibkan untuk mengikuti PKL, namun ada orangtua siswa yang tidak mampu membayar, sebaiknya disubsidi.

”Saya sudah bilang ke sekolah, subsidilah anak yang kurang mampu, supaya bisa pergi. Kta

harapkan itu dari sekolah. Jangan mereka (sekolah) mengadakan sesuatu yang memerlukan biaya, tapi ternyata biaya dari orangtua siswa tak ada. Mensubsidikan siswa saat program PKL ini sudah dilakukan di sekolah-sekolah lain,” jelas Rudy.

 

Sumber :

http://revistas.uned.es/index.php/accionpsicologica/comment/view/520/460/150100


Comments are closed.