Call Us:+1-888-888-888

Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan

Home  /  Pendidikan  /  Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan

25.Nov, 2019 Comments Off on Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan Pendidikan

Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan

Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan

Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan

Pernikahan Dini Pintu Masuk Kemiskinan

Akhir-akhir ini peristiwa perkawianan di bawah umur kini mulai sering diberiatakan oleh media.

Dalam usia yang tergolong belia, secara mental/psikologis sorang anak belum siap untuk menghadapi perkawinan. Perkawinan dini meningkatkan resiko kematian ibu dan anak. Kualitas anak yang dilahirkan pun rendah.

Lenny N. Rosalin, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengungkapkan, perkawinan dini pun diyakini bakal memperpanjang rantai kemiskinan.

“Anak-anak yang menikah pada usia dini, tidak dapat lagi memperoleh hak atas pendidikan. Padahal, selain bisa menjadi tangga bagi masyarakat untuk mengubah status sosial mereka, pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian, mendapatkan pengalaman, dan membentuk generasi bangsa yang cemerlang,” kata dia di Jakarta, Senin (6/8/2018).

Ia bilang Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bekerjasama

dengan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 telah mengumpulkan informasi mengenai jenjang pendidikan yang ditempuh oleh perempuan usia 20 24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah atau di atas 18 tahun.

Katanya, hasilnya cukup memprihatinkan, sebesar 94,72% perempuan usia 20 24 tahun berstatus

pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun atau usia anak tidak bersekolah lagi, sementara yang masih bersekolah hanya sebesar 4,38%.

Perempuan usia 20 24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan pada usia anak pun cenderung memiliki pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang kawin di atas usia 18 tahun.

Sejauh ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise tengah mendorong revisi Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, terutama pasal yang mengatur batas usia perkawinan.

“Sebaiknya batas minimal perkawinan dinaikkan, terutama bagi perempuan, karena usia 16 tahun masih tergolong usia anak atau belum dewasa,” katanya.

 

Sumber :

https://t.me/belajarngeblogbareng/12

 


Comments are closed.