Call Us:+1-888-888-888

Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan

Home  /  Umum  /  Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan

22.Nov, 2019 Comments Off on Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan Umum

Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan

Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan

Pada awal abad ke-16, Kerajaan Demak udah jadi kerajaan yang kuat di Pulau Jawa, tidak satu pun kerajaan lain di Jawa yang mampu menandingi usaha kerajaan ini dalam memperluas kekuasaannya bersama dengan menundukan sebagian kawasan pelabuhan dan pedalaman di nusantara.

Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa (“Pasisir”). Menurut formalitas Jawa, Demak pada mulanya merupakan kadipaten sebuah kerajaan bawahan berasal dari kerajaan Majapahit bersama dengan sebutan Bintoro terhitung disebut Glagah Wangi, kemudian muncul sebagai kebolehan baru mewarisi legitimasi berasal dari kebesaran Majapahit.

Kerajaan ini tercatat jadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Walau tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran gara-gara berlangsung perebutan kekuasaan di pada kerabat kerajaan. Pada th. 1568, kekuasaan Demak berubah ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang menurut formalitas didirikan oleh Walisongo.

Lokasi keraton Demak, yang pada era itu berada di tepi laut, berada di kampung Bintara (dibaca “Bintoro” dalam bhs Jawa), selagi ini udah jadi kota Demak di Jawa Tengah. Sebutan kerajaan pada periode kala beribukota di sana dikenal sebagai Demak Bintara. Pada era raja ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca “Prawoto”) dan untuk periode ini kerajaan disebut Demak Prawata.

Dulu Demak jadi pusat kerajaan, sebagai kota besar yang roda perekonomiannya lebih maju berasal dari daerah lainnya. Kini Demak hanya dipandang sebelah mata orang sepertinya diabaikan potensi dan peluang kemakmurannya.

Peluang dan Potensi Demak

Untuk menggapai kembali kejayaan itu, perlu upaya pemberdayaan segenap potensi. Kunci kesuksesan pembangunan daerah Bersandar pada kebolehan lokal dan kebersamaan masyarakatnya. Selain itu, menuntut kejelian stakeholders dalam melihat segala potensi supaya mampu menambah kesejahteraan daerah, baik yang berpengaruh segera bersama dengan aspek ekonomi maupun kesejahteraan masyarakatnya.

Era otonomi daerah (otda) yang sedang bergulir di Indonesia secara segera maupun tidak segera membawa pengaruh yang memadai luas pada tatanan kehidupan penduduk lokal, tak jika Demak.

Kondisi ini udah beri tambahan suatu kesadaran baru bagi kalangan pemerintah daerah ataupun masyarakat, bahwa kami tidak mampu kembali membiarkan gelombang otonomi mengalir begitu saja tanpa upaya untuk mengarahkan dan mengisinya bersama dengan tindakan nyata yang positif demi kemajuan wilayah.

Karena itu perlu kesungguhan dalam memberdayakan segenap potensi daerah. Ada sebagian potensi yang perlu dieksplorasi, pertama, potensi sejarah. Sebagai pusat kerajaan dan pusat perjuangan melawan penjajah, Demak membawa histori yang gemilang. Namun sejauh ini kebolehan histori belum mampu secara maksimal jadi spirit bagi kemajuan masyarakatnya.

Bahkan letak bekas Keraton Demak belum diketahui secara pasti. Banyak sejarawan yang singgah untuk meneliti dan mencari memahami keberadaan keraton, tetapi sampai kini lokasi tentu saja masih mengakibatkan pro dan kontra.

Mengulang Kejayaan

Padahal, menghadirkan web site dan silsilah kerajaan Demak pada era kini terlampau mungkin digunakan untuk merubah suasana penduduk yang tidak kembali ideal. Sebuah penduduk yang jauh berasal dari kala kerajaan Demak didirikan oleh para wali, pada selagi daerah itu dipimpin oleh Raden Patah, Patiunus, atau Trenggono. Mengulang kejayaan kerajaan Demak dalam kehidupan era kini bukanlah hal yang mustahil.

Kedua, potensi sektor unggulan. Masyarakat perlu mampu memetakan berbagai potensi yang dimiliki. Setidaknya, pemetaan potensi ini mengacu pada empat sektor unggulan yang sedang dan akan digarap serius fungsi membangkitkan kembali kejayaan Demak. Keempat sektor berikut adalah pertanian, perikanan dan kelautan, pariwisata, dan juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pertanian jadi sektor yang perlu diprioritaskan mengingat sebagian besar penduduk masih mengandalkan sumber nafkahnya berasal dari sektor ini. Apalagi Demak jadi lumbung padi terbesar ketiga di Ja-teng (setelah Cilacap dan Grobogan), dan juga salah satu sentra penghasil kacang hijau terbesar di Indonesia.

Selain itu, di era sekarang orang mengenal Demak bersama dengan jambunya. Dalam perspektif religi, orang mengenal Demak sebagai Kota Wali, dan dalam perspektif pertanian, daerah ini membawa produk khas yang tidak sama berasal dari daerah lain, yakni belimbing, jambu delima, dan jambu citra.

Ketiga, potensi budaya. Dalam menyebarkan agama Islam di Demak, para wali kebanyakan pakai fasilitas budaya dan formalitas yang ada, baik bersama dengan wayang, gamelan, maupun seni suara suluk sebagai fasilitas dakwah.

Artikel Lainnya : contoh motivation letter

Mereka mampu membawa warisan budaya lokal yang mampu bertahan sampai sekarang, seperti formalitas Garebeg Besar, Kupatan, dan Apitan. Demak terhitung kaya bersama dengan karya sastra. Potensi budaya ini jika dikembangkan akan jadi ikon.

Demak terhitung membawa potensi untuk dikembangkan jadi daerah wisata religi, bersama dengan Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu sebagai simbolnya. Jika banyak pengunjung singgah ke Demak, maka akan tersedia perputaran duit dan pertumbuhan ekonomi, yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :


Comments are closed.