Call Us:+1-888-888-888

Mari Berhitung dan Merenung Sejenak

Home  /  Pendidikan  /  Mari Berhitung dan Merenung Sejenak

18.Sep, 2019 Comments Off on Mari Berhitung dan Merenung Sejenak Pendidikan

Mari Berhitung dan Merenung Sejenak

Mari Berhitung dan Merenung Sejenak

Mari Berhitung dan Merenung Sejenak

Mari Berhitung dan Merenung Sejenak

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya…” (QS An-Nahl [16]: 18)

Pernahkah kita menanyakan harga Oksigen (O2) di apotik? Jika belum tahu, ketahuilah harganya sekitar Rp 25.000 per liter. Pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di apotik? Jika belum tahu, harganya sekitar Rp. 9.950 per liter.

Tahukah kita? Bahwa dalam sehari manusia menghirup Oksigen (O2) sebanyak 2.880 liter dan Nitrogen 11.376 liter. Jika harus dihargai dengan rupiah, maka Oksigen (O2) dan Nitrogen yang kita hirup, akan mencapai Rp 170 jutaan per hari untuk satu orang. Jika kita hitung kebutuhan kita sehari Rp 170 juta, maka sebulan Rp 5,1 milyar untuk satu orang.

Pernahkah ada malaikat menagih oksigen dan nitrogen yang kita hirup datang ke rumah setiap bulan? Ketahuilah Presiden, Raja bahkan orang terkaya di dunia apalagi rakyat biasa yang hidupnya sudah susah tidak akan sanggup melunasi biaya napas hidupnya jika Allah Yang Maha Kuasa memakai rumus dagang kepada manusia! Dan ini hanya satu hal saja: “napas” belum yang lain seperti detak jantung, menggerakan tubuh, melihat, merasakan sensasi, mengecap dll.

Dalam QS Ar-Rahman Allah mengingatkan manusia hingga berulang sampai 31 kali dengan kalimat yang sama, dengan jumlah huruf yang sama agar manusia mudah mengingatnya dan pandai bersyukur. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman [55])

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mendustai (nikmat Allah).” (QS Ibrahim [14] : 34)

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata “dusta”; bukan kata “ingkari”, “tolak” dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.

Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi nikmat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!

Ada sebuah kisah menarik tentang Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi yang wafat pada tahun 194 H./810 M. Al Kisah, pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli Buah Semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah Semangka tersebut terasa hambar. Sang isteri pun marah. Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai di dengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus:

“Kepada siapakah kau marah wahai istriku?

Kepada pedagang buahnya kah?

Atau kepada pembelinya?

Atau kepada petani yang menanamnya?

Ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?” Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq.

Istri beliau terdiam. Sembari tersenyum, Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:

“Seorang pedagang tidak berniat menjual sesuatu kecuali yang terbaik…

Seorang pembeli pun pasti ingin membeli sesuatu yang terbaik pula..!

Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik..!

Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu..!”.

Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya… Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya :

“Bertaqwalah wahai istriku… Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya.” Agar Allah memberikan keberkahan pada kita”

“Mendengar nasehat suaminya itu… Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridha’ dengan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.”

Pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa setiap keluhan yang terucap, sama saja kita tidak ridha dengan ketetapan Allah SWT, sehingga berkah Allah jauh dari kita. Karena Berkah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi berkah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.

Berkah itu: “… bertambahnya ketaatanmu kepada Allah. Makanan berkah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.

Hidup yang berkah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru berkah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada Allah.

Berkah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya.

Tanah yang berkah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah… Tiada banding… Tiada tara.

Ilmu yang berkah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang berkah ialah ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah.

Penghasilan berkah juga bukan gaji besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut. Dan di bersihkan dengan zakat atas rezekinya itu.

Anak-anak yang berkah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar, mempunyai pekerjaan, mempunyai jabatan hebat. Tetapi, anak yang berkah ialah yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita dan tak henti-hentinya mendo’akan kedua orangtuanya. Penyelamat di akhirat kelak.

Maka, sudah pantaskah kita berkeluh kesah?

Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Sumber : https://downloadapk.co.id/


Comments are closed.