Call Us:+1-888-888-888

Kisah Penjual Susu

Home  /  Umum  /  Kisah Penjual Susu

4.Sep, 2019 Comments Off on Kisah Penjual Susu Umum

Kisah Penjual Susu

Kisah Penjual Susu

Di malam yang pekat dan angin dingin semilir menusuk, Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab tengah menelusuri kota Medinah lewat lorong demi lorong. Di pas semua penduduk kota terlelap, sang khalifah selamanya terjaga mendatangi satu demi satu rumah untuk tahu kondisi rakyatnya.

Ia tahu bahwa kepemimpinannya kelak bakal dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, ia tidak menghendaki tersedia seorang pun dari rakyatnya yang terzalimi.

Malam semakin larut hingga tibalah fajar menyingsing. Ketika hendak beranjak ke masjid, langkahnya tertahan di depan sebuah gubuk reot. Dari didalam gubuk itu terdengar percakapan lirih antara seorang ibu dan putrinya. Dari percakapan itu ternyata mereka adalah penjaja susu kambing yang bakal menjual hasil perahannya di pasar pagi itu.

“Nak, campurlah susu itu dengan air,” pinta sang ibu kepada putrinya. Sang ibu meminta agar ia meraih keuntungan lebih banyak dari hasil penjualan susu oplosannya (campuran).

Putrinya menjawab, “Maaf, Bu, tidak barangkali aku melakukannya. Amirul Mukminin tidak membolehkan untuk mencampurkan susu dengan air, kemudian menjualnya,” tolak putrinya dengan halus.

Sang ibu selamanya bersikukuh, “Itu suatu perihal yang lumrah, Nak. Semua orang melakukannya. Lagi pula Amirul Mukminin tidak bakal mengetahuinya,” bujuk sang ibu lagi.

“Bu, boleh menjadi Amirul Mukminin tidak tahu apa yang kami jalankan sekarang, namun Allah SWT Maha Melihat dan Mengetahui!” jawab sang putri salehah.

Haru dan bahagia membuncah di dada Amirul Mukminin. Betapa ia takjub bakal kejujuran dan keteguhan hati sang gadis miskin tersebut. Mungkin gadis berikut miskin harta, namun begitu kaya hatinya. Amirul Mukminin teringat bakal tujuannya mula-mula dan bergegas menuju masjid untuk shalat Fajar dengan para sahabat.

Usai jalankan shalat di masjid, Umar bin Khaththab langsung memangil putranya yang bernama ‘Ashim. Beliau langsung memerintahkan ‘Ashim untuk melamar putri penjaja susu yang jujur berikut karena sesungguhnya sudah saatnya ‘Ashim untuk berumah tangga. Tidak lupa Amirul Mukminin menceritakan keluhuran hati gadis penghuni gubuk reot berikut kepada putranya.

“Aku menyaksikan dia bakal membawa berkah untukmu kelak terkecuali kamu mempersuntingnya menjadi istrimu. Pergilah dan temui mereka, lamarlah dia untuk menjadi pendampingmu. Semoga kalian mampu melahirkan keturunan yang bakal menjadi pemimpin umat kelak!” ujar Umar bin Khaththab kepada putranya, ‘Ashim.

Akhirnya, ‘Ashim menikahi gadis berhati suci itu dan lahirlah seorang putri bernama Laila. Ia tumbuh menjadi gadis yang taat beribadah dan cerdas. Saat dewasa, Laila dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan keduanya lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin besar yang disegani. Dia mewarisi keagungan akhlak neneknya dan kepemimpinan buyutnya, Umar bin Khaththab.

Baca Juga :


Comments are closed.