Call Us:+1-888-888-888

Psikologi di dalam Pendidikan

Home  /  Pendidikan  /  Psikologi di dalam Pendidikan

14.Aug, 2019 Comments Off on Psikologi di dalam Pendidikan Pendidikan

Psikologi di dalam Pendidikan

Psikologi di dalam Pendidikan

Psikologi di dalam Pendidikan
Dengan pesatnya perkembangan teknologi dari ilmu pengetahuan, maka perubahan-perubahan pesat berlangsung pula di dalam bidang pendidikan. Kurikulum sering dikenal revisi dan pengembangan, target pendidikan sering mengalami pergantian perumusan, metode studi mengajar telah sering mengalami pergantian dan pengembangan, dan sumber serta fasilitas studi sering mengalami penambahan. Bahkan, abad tekonologi telah melanda dunia pendidikan. Berbagai peralatan teknologi elektronik serta computer mulai banyak dipergunakan di di dalam proses studi mengajar di sekolah-sekolah.

Kenyataan di atas banyak memancing beragam respon di kalangan masyarakat pendidikan. Pengaruh studi bersama pakai computer di dalam proses studi mengajar, telah mendukung proses percepatan arus informasi. Jika pemanfaatan dikombinasikan bersama pesawat telepon serta peralatan fotokopi serta internet, perihal ini dapat memperluas jangkauan arus informasi ke segenap pelosok dunia secara hampir serentak. Secara pribadi, efek computer yang paling cepat adalah langsung membuka dinding penyekat tiap-tiap mata pelajaran serta bagian-bagian ilmu ke arah peninjauan lapangan atau medan keseluruhan (over-all field), menembus keseluruhan kesadaran, yang ini seluruh merealisasi cara studi Gestalt. Salah satu bahaya dari cara pengajaran ini adalah adanya kecenderungan pelaksanaan aktivitas studi secara mekanis dan tidak humanistis. Dengan kata lain, tersedia kegelisahan dapat diabaikan psikologi di dalam pendidikan.

Untuk menangani kegelisahan di atas sesungguhnya tersedia caranya, antara lain bersama mempunyai anak didik kepada keaktifan yang lebih tinggi, baik fisiologis maupun psikologis. Belakang ini timbul permohonan untuk mengintrodusir proses tutorial bersama beragam macam bentuk. Dengan demikian, psikologis masih dapat mendapatkan area di dalam pendidikan.

Berbicara mengenai situasi pengajaran di Indonesia, kita tidak sanggup menutupi kenyataan di mana sekolah-sekolah masih utamakan penguasaan mata pelajaran-mata pelajaran. Akibatnya, manfaat dan minat guru-guru ataupun murid-murid masih banyak dibatasi oleh policy serta pengawasan dari pihak pemerintah. Memang tersedia kemungkinan, bahwa kesuksesan pendidikan kita adalah tidak terlepas hubungannya bersama keterampilan guru-guru di dalam mengelola studi mengajar. Pendidikan kita saat ini belum banyak mencermati minat dan keperluan anak didik. Pendidikan kita masih banyak dihadapkan bersama masalah-masalah kompetensi instansi pendidikan serta pemenuhan keperluan dunia kerja dapat tenaga kerja.

Dari kenyataan di atas, maka telah tiba masanya saat ini di mana pendidikan hendaknya lebih melayani keperluan dan hakikat psikologis anak didik. Pendidikan seharusnya mempunyai kreasi-kreasi baru di selama sementara bersama berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik. Selama anak sekolah hanya menyenangi puisi-puisi dari terhadap menulis naskah-naskah kreatif dan selama anak-anak sekolah dilatih perhitungan matematis yang tidak cukup bermanfaat dari terhadap mengajarkan faedah perhitungan itu untuk kegunaannya yang nyata, maka selama itu juga pendidikan di sekolah belum berhasil.

Jika kita punyai dunia pendidikan di dalam praktek, masih banyak kita jumpai guru-guru yang beranggapan, bahwa pekerjaan mereka tidak lebih dari menumpahkan air ke di dalam botol kosong. Guru yang sangat sanggup berhasil adalah guru yang tahu bahwa dia mengajarkan sesuatu kepada manusia-manusia yang berharga dan berkembang. Dengan bekal kesadaran semacam itu di kalangan para pendidik, perihal itu telah memberikan harapan agar guru-guru menjunjung pekerjaan mereka sebagai guru. Pekerjaan guru adalah lebih berupa psikologis dari terhadap pekerjaan seorang dokter, insinyur, atau pakar hukum. Untuk itu, guru hendaknya mengenal anak didik serta menyelami kehidupan kejiwaan anak didik selama waktu. Guru hendaknya tidak suntuk bersama pekerjaannya, walaupun dia tidak sanggup menentukan atau meramalkan secara tegas mengenai bentuk manusia yang bagaimanakah yang dapat dihasilkannya di kelak sesudah itu hari. Ini menjadi kenyataan, bahwa guru tidak pernah tahu hasil akhir dari pekerjaannya.

Sekolah-sekolah yang utamakan tekun ketat terhadap murid-murid di kelas serta menjadikan displin sebagai alat penting untuk mengemukakan bahan pelajaran kepada murid-murid, maka sekolah-sekolah semacam itu belum memberi area yang terhormat terhadap psikologi di dalam pendidikan. Disiplin terhadap hakikatnya hanya salah satu metode di dalam pelajaran manfaat menumbuhkan kepatuhan ekstrinsik terhadap anak didik. Kita wajib merenungkan, bahwa kepatuhan ekstrinsik sanggup merupakan perintang bagi perkembangan privat anak didik.

Dalam psikologi, kepatuhan yang singgah dari luar merupakan isyarat adanya konflik antara otoritarianisme dan demokrasi. Dalam pendidikan, kepatuhan sesungguhnya perlu, tetapi kepatuhan itu sendiri hendaknya tidak sepihak. Kepatuhan sebaiknya berlangsung secara timbal balik di antara seluruh pihak yang terlibat di di dalam pendidikan, baik itu anak didik, pendidik, kurikulum, maupun fasilitas pendidikan. Di sinilah letak pentingnya psikologi di dalam pendidikan. Semua pihak yang terlibat di dalam proses pendidikan wajib mengarahkan perhatian kepada sifat dan hakikat anak didik, agar service pengajaran membuahkan pribadi-pribadi yang berkembang secara wajar dan efektif. Dalam perihal ini penerapan terlebih psikologi studi perlu pemikiran yang mendalam, agar service atau perlakuan pendidik terhadap anak didik sesuai bersama sifat dan hakikat anak didik.

Berdasarkan uraian di atas, ilmu psikologis mengenai anak didik menjadi perihal yang sangat penting di dalam pendidikan. Sebab itu ilmu mengenai psikologi pendidikan, bahwa bagi tiap-tiap orang yang tahu peranannya sebagai pendidik.

Baca Juga :


Comments are closed.