Call Us:+1-888-888-888

Cara Terbaik Memahami Anak

Home  /  Pendidikan  /  Cara Terbaik Memahami Anak

26.May, 2019 Comments Off on Cara Terbaik Memahami Anak Pendidikan

Cara Terbaik Memahami Anak

Cara Terbaik Memahami Anak

Banyak orangtua yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang anda memberikan untuk mengatasi persoalan anak amat bagus. Tetapi, saya tidak percaya bisa menerapkan apa yang sudah anda ajarkan” lalu bertanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, seterusnya bagaimana mengkomunikasikan terhadap mereka?”.

Jelas ini adalah masalah, namun tenang saja gara-gara ada langkah untuk tahu prilaku anak. Sebelum mengkaji perihal itu ada anggota yang harus anda pahami khususnya dahulu. Banyak orangtua yang menanyakan dalam asumsi mereka sendiri:

Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
Mengapa mereka melaksanakan hal-hal yang tidak masuk akal?
Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
Mengapa anak saya melepas dirinya dipengaruhi oleh teman-temannya dengan hal-hal negatif yang tidak berguna?
Nah pertanyaan utama, “Bagaimana langkah tahu prilaku dan kesimpulan mereka?”

Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi amat menguasai logika berpikir anak-anak dan remaja. Mereka jauh lebih banyak di dorong oleh perasaan daripada kesimpulan mereka. Dengan tahu perihal ini, maka percuma upaya kami mengkuliahi mereka seharian. hidroponik sederhana

Mengisi asumsi mereka dengan nasihat positif, dan menjadikan diri kami motivator di depan mereka tidak akan berhasil. Justru akan sebabkan anak jadi tambah sebal dengan perbuatan kita. Komentar atau nasihat seperti, “Kamu harus giat belajar”, “Jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “Jaga kebersihan kamarmu”, kalau misalnya kami sudah khususnya dahulu mengetahui perasaan mereka.

Dalam suasana emosi yang negatif seorang anak tidak bisa menerima input dan nasihat yang bisa membuat perubahan prilaku mereka. Berbeda hasilnya kalau kami bisa tahu dan mengetahui perasaan emosi mereka khususnya dahulu, maka mereka akan terbuka dan mendengarkan anjuran logis berasal dari kita. Anak–anak dan remaja akan melaksanakan sesuatu kalau sebabkan mereka menjadi nyaman di hatinya.

Sebelum melangkah lebih jauh, kami akan studi bersama, bagaimana reaksi kami dalam menghadapi persoalan anak tersebut. Seringkali kalau ada persoalan maka yang ada di benak kepala kami biasanya ada 3 hal, yaitu :

1. Memberi nasihat, misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus di sekolah”, respon kami terhadap biasanya “Apa-apaan anda ini, sekolah bukan tempat untuk berkelahi, cuma penjahat yang menyelesaikan masalahnya dengan berkelahi.”

2. Menginterogasi, misalnya “HP saya hilang di sekolah”, respon kami terhadap biasanya “Kamu percaya bukan anda sendiri yang menghilangkan? Coba di ingat kembali.”

3. Menyalahkan dan menuduh, misalnya “Tadi Edo dihukum gara-gara tidak mengerjakan PR”, respon kami terhadap biasanya “Dasar anak malas, menjadi hari ini anda harus lebih telaten dan memperhatikan tugas di sekolah.”

Setelah memandang ketiga perumpamaan diatas, tidak ada satu area pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kami ini cuma beri tambahan masukan tanpa mau mendengar apa yang sesungguhnya terjadi, atau lebih tepatnya perasaan apa yang berjalan terhadap diri anak kita.

Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam suasana emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kami tidak akan digubris.

Cara terbaik untuk tahu anak kami adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kemampuan untuk menemukan solusi atas persoalan mereka sendiri. Caranya adalah:

1. Berikan perhatian dan pengakuan

Terkadang yang diperlukan anak cuma didengar saja, bukan solusinya. Hanya beri tambahan perhatian 100% kami bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka, mau share asumsi dan perasaannya.

Hanya dengan bicara “Hmm.. oke, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sukar bagi kami orangtua yang punya kebiasaan mau mengambil jalur cepat, dengan beri tambahan solusi dan menyelesaikan masalah.

Ketika perihal itu kami lakukan, justru anak akan menutup diri, dan menghindar untuk bicara dengan kita. Anak cuma akan meyatakan asumsi dan perasaan yang sejujurnya tanpa was-was dihakimi.

Ketika kami biarkan anak mengutarakan emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kami ada untuk memberi perlindungan emosional), kami akan memandang mereka bisa menemukan solusi sendiri untuk masalah mereka.

Kelebihan lainnya berasal dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri dengan berpikir untuk dirinya sendiri, dan berani menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus, di sekolah”, respon kami “Apa yang terjadi? Lukamu tentu sakit sekali yah..”

2. Mengenali dan melukiskan emosi

Perlu bagi kami sesaat untuk mempelajari makna berasal dari emosi, gara-gara ini penting bagi kami untuk bisa mencerminkan emosi anak, dan tahu dengan tentu apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka ringan bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang persoalan mereka. Berikut adalah emosi yang biasanya dialami oleh manusia.

Nama emosi dan berarti :

Marah – Merasakan terdapatnya ketidakadilan
Rasa bersalah – Kita menjadi tidak adil terhadap orang lain
Takut – Kita dikehendaki antisipasi gara-gara sesuatu yang tidak di idamkan bisa saja terjadi
Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tidak sesuai harapan
Kecewa – Apa yang di idamkan tidak bisa terwujud
Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang berarti bukan cuma hanyalah berteman
Rasa tidak bisa – Kebutuhan untuk studi gara-gara ada sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan dengan baik
Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan memperoleh tantangan baru
Stress – Sesuatu yang amat menyakitkan dan harus segera dihentikan
Depresi – Sesuatu yang amat menyakitkan dan harus segera dihentikan
Baiklah kami menjadi dengan satu kasus, kalau anak anda mampir dan bicara “Joni tidak mau bermain bola denganku” Apa jawab anda? “Sini main sama papa/mama, main sama yang lain saja ya, atau ya sudah main sendiri saja.” Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan sesungguhnya dibenarkan gara-gara sering dipakai.

Pertanyaan saya ada emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? KECEWA dan KESEPIAN. Nah, kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak anda idamkan sekali ya bermain dengan Joni?” atau “Hmm.. anda kesepian yah, idamkan bermain ya?” lalu menanti responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, lantas solusi sebaiknya diserahkan kepada anak.

Caranya “Lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu? Ingin bermain dengan Papa/Mama? Atau ada inspirasi lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Perhatikan tabel diatas dan mengfungsikan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap persoalan yang dialami anak.

Dengan ikut tahu perasaan emosi anak dan melepas menemukan solusi masalahnya sendiri, maka anak akan menjadi dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri di lingkungan yang menjunjung dia. Dan seterusnya akan ringan bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya pada orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.

Sampai kini, kami sudah studi bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya terhadap kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Setelah kami mendengar dan tahu perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah bisa berpikir untuk solusi) tanyakan “Bolehkah Papa/Mama memberi saran?” sesudah ada ijin berasal dari anak maka memberikan masukan yang anda rasa paling barik.

Terkadang langkah pandang anak tidak sama dengan orangtua, kami tahu kalau anak memilih solusi yang tidak cukup pas (menurut orangtua) dengan nilai atau norma yang berlaku di lingkungan sosial, maka kami bisa mengarahkannya dengan ringan gara-gara langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan selalu menjunjung anak.

Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar waktu kami mau menerima dan tahu anak, dan mereka akan mempersilahkan kami masuk dan bertamu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kami bisa meletakan pesan, anjuran dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.

Saya tahu langkah ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk menambah mutu keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan sistem di dapur, tidak sekian detik jadi. Nah mutu apa yang kami mau untuk keluarga kita?

Semoga bermanfaat.


Comments are closed.