Call Us:+1-888-888-888

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Home  /  Pendidikan  /  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

23.Sep, 2018 Comments Off on Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Pendidikan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

  1. Penerapan Metode Mengajar

Metode adalah suatu cara kerja yang sistematika dan umum, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Metode yang baik, makin efektif pula pencapaiannya, tetapi tidak ada satupun metode yang dilakukan paling baik atau dapat dipergunakan bagi semua macam usaha pencapaian tujuan (Rohani, 1991:111). Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi karena kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut dalam menyajikannya tidak jelas atau sikap guru atau siswa terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap mata pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar (Slamento, 2003:65).

  1. Proses Belajar Mengajar
Keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik (Slamento, 2003:1). Jika terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar, bila ada yang belajar, maka sudah barang tentu ada yang mengajarinya, dan begitu sebaliknya.
Sudah terjadi suatu proses atau saling berinteraksi, antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Hasil dari proses belajar mengajar (PBM) disebut hasil pengajaran atau hasil belajar, dan agar memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi secara baik (Sadirman, 2001:19).

  1. Model Pembelajaran
Arends (1997) menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Ibrahim et al, 2000:2).
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengoganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar (Trianto, 2007:7). Merujuk pada definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran memberikan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sifat materi yang akan diajarkan, tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik. Beberapa macam model pembelajaran yang sering digunakan guru dalam mengajar yaitu: pengajaran langsung (direct instruction), pembelajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah (problem base instruction), dan diskusi.

  1. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa yang belajar dalam kondisi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.
Penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama (Ibrahim dkk, 2000:5-6). Ini berarti ada penggeseran peran guru yang sentral menuju peran guru yang mengelola aktivitas belajar siswa melalui kerja sama kelompok di kelas (Ibrahim et all, 2000:6-7). Ciri-ciri pembelajaran kooperatif yaitu:
  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya,
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah,
  3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda,
  4. Penghargaan lebih berorientasi ketimbang individu,

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan pembelajaran penting (Ibrahim et all, 2000:7-9), yaitu:
  1. Hasil belajar akademik, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik,
  2. Penerimaan terhadap perbedaan individu,
  3. Model kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang,
  4. Pengembangan keterampilan sosial,
  5. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.

 


Comments are closed.